tuhan, izinkan aku menjadi pelacur! memoar luka seorang muslimah: ketika seseorang dikecewakan oleh ekspektasinya sendiri
Judul : Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur! Memoar Luka Seorang Muslimah
Penulis : Muhidin M. Dahlan
Penerbit : Warning Books
Tahun Terbit : 2003 (cetakan Ke-24)
Tebal Halaman : 251 halaman
Perkenalkan Nidah Kirani, seorang perempuan yang awalnya mencoba
mengenal lebih dalam tentang agamanya sendiri tetapi malah kecewa setelah menyelam
lebih dalam kepercayaannya tersebut. Penggalan kehidupannya dalam menuntut keyakinannya
tersebut tertulis dalam buku dengan judul yang sedikit memantik rasa penasaran.
Buku ini diklaim oleh sang penulis sebagai sebuah memoar kisah salah seorang
temannya dengan wawancara yang mendalam selama beberapa pekan.
Judul dari buku ini telah memantik banyak diskusi dan
bahkan menjadi beberapa subyek penelitian dalam karya ilmiah dari berbagai
universitas. Kekontroversian buku ini menyebabkan beberapa golongan masyarakat
merasa resah dengan beredarnya buku ini di khalayak ramai. Karena isi dari buku
ini dianggap memojokkan suatu organisasi keagamaan dan juga dikhawatirkan dapat
memengaruhi pikiran remaja yang membacanya.
Terlepas dari kontroversi-konntroversi tersebut, saya
sendiri menikmati membacanya. Meskipun selama membaca, acap kali saya
mengkernyitkan dahi dengan pemaparan pemaparan yang di sampaikan oleh sang
narator, Nidah Kirana. Karena mungkin pemikiran saya berbanding terbalik dengan
monolog monolog yang disampaikannya.
Sedikit banyak, buku ini menggambarkan cara pemikiran seseorang yang sudah terlanjur kecewa karena jalan yang dilalui nya tidak sesuai dengan ekspektasi surga di kepalanya. Kiran memaparkan bagaimana awalnya sebuah kekecewaan yang akhirnya dapat menimbulkan keputusasaan dan kebuntuan pikiran.
Pengenalan
Awalnya , ia bergabung dengan organisasi yang memperjuangkan
negara yang berdaulah Islamiyah. Saya sangat salut dengan perjuangan Kiran ini ketika
dia melakukan perjalanan ‘jihad’ untuk membenarkan akidah umat agamanya yang menurutnya
sudah salah kaprah. Karakter Nidah ini digambarkan sebagai perempuan yang tertata
dalam segala hal dan juga memiliki tingkat ke krtitisan yang tinggi.
Hanya saja, karakter sehebat Kiran ini ditakdirkan untuk hidup di lingkungan yang sama sekali tidak mendukung pikiran visionernya itu. Bahkan, dia merasa bahwa perjuangan dan pengorbanan dirinya selama ini dianggap tidak berarti apa-apa oleh organisasi yang membawahinya tersebut. Menyadari hal itu, dia pun kabur dan memulai kehidupan barunya. Kekecewaan inilah awal yang mengubah dirinya menuju berpihak pada sisi kegelapan dan kemudian memaki maki sisi lawannya.
Buku dengan diksi yang hebat
Saya terkagum-kagum kembali dengan kepiawaian Muhidin M.
Dahlan dalam merangkai kata-kata. Dalam beberapa lembar saja saya sudah ternganga
dengan diksi yang disajikan dalam buku ini. Beliau pun menyelipkan istilah
istilah dalam bahasa Jawa yang mendukung latar dari cerita tersebut yang memang
berlatar di Yogyakarta.
Selain itu, hal yang menarik lainnya adalah penggunaan nama nama samaran pada beberapa kampus yang di sebut dalam cerita tersebut. Hal ini, membuat pembaca menerka-nerka kampus mana saja yang disebut dalam memoar ini.
Kegelapan yang diakibatkan oleh kekecewaan
Buku ini menurut saya adalah salah satu buku yang syarat akan ‘kegelapan’ karena pemaparan-pemaparan yang disampaikan oleh sang narator. Salah satu pemaparan yang menurut saya membuka pandangan baru adalah tentang pemahaman gender.
Dikisahkan setelah Kiran merasakan kekecewaan terhadap naungan
sebelumnya, ia memilih untuk menjadi perempuan yang ingin bebas dari dogma
agama dan memilih untuk menyeberangi sisi “bercahaya.” Tak lama, maka ia pun
terjerumus dengan pengetahuan pengetahuan baru tentang dunia seks.
Dalam riwayatnya, Kiran secara sadar melakukan hubungan
seks secara consent dengan beberapa
laki laki yang ditemuinya. Tak jarang, dia bahkan membuat laki-laki hanya
sebagai hiburannya saja.
Salah satu pemikirannya yang membuat saya mengangguk
setuju adalah ketika dengan kurang ajarnya
dia memaparkan bahwa laki-laki bisa dikendalikan dengan sepotong ‘daging surga’
milik wanita. Sungguh mindblowing
menurut saya. Pemaparan pemaparan lainnya pun tak kalah mindblowing dari ini. Dan
itu menjadi gerbang diskusi yang lebih bercabang lagi.
Buku yang luar biasa
Pengisahan kekecewaan Kiran ini digarap dengan apik oleh Gus
Muh. Hanya saja, menurut saya terlalu banyak narasi sehingga membuat plot dari
cerita ini terkesan lambat. Bahkan, ada satu halaman yang diisi penuh oleh
narasi satu paragraf saja. Rentetan kalimat itu membuat saya sedikit sulit
untuk mencerna per kalimatnya karena tidak adanya space dan jeda untuk mata.
Selain itu, dalam versi cetak yang saya beli, ada beberapa
kata yang sengaja di sensor. Saya memaklumi hal tersebut karena mungkin ini
adalah cetakan terbaru agar tidak menimbulkan kontroversi baru juga. Saya belum
mendapatkan informasi apakah cetakan lama juga terdapat sensor seperti yang
saya beli ini atau tidak. Hanya saja, penyensoran tersebut membuat saya kurang
nyaman untuk membacanya. Seolah-olah kalimat tersebut tidak rampung.
Dibalik kekurangan-kekurangan tersebut, saya menilai buku
ini sangat layak untuk dibaca sekedar menyegarkan pikiran yang haus akan
pandangan baru mengenai dunia ‘seberang’. Kontroversilah yang menyebabkan saya
berani untuk menamatkan buku ini. Selain itu, saya sangat antusias untuk
menonton film adaptasi dari novel ini yang berjudul Tuhan Izinkan Aku Berdosa
yang rilis tahun 2023.


Comments
Post a Comment