Opinion Sharing: "Jangan Panggil Mbak!"

Image by Septa created with Canva

Sebagai Orjatul (Orang Jawa Tulen) yang merantau di Jakarta kadang suka bingung dengan dua kata sapaan ini. Waktu awal-awal di sini, aku belum paham kalo ternyata panggilan "mas" dan "mbak" mempunyai pergeseran makna yang cukup signifikan di kalangan warga lokal Jakarta. Sehingga, salah penyebutan panggilan terhadap orang lain di sini bisa menjadi bulan-bulanan mereka. 

Bahkan, beberapa tahun lalu sempat terjadi huru hara di media sosial X (Twitter) di mana seorang pelanggan ojol (ojek online) memberikan rating jelek kepada pengemudinya hanya karena pelanggan tersebut merasa tersinggung karena dipanggil "mbak". Ketika kejadian itu muncul, beragam komentar membanjiri posting an tersebut. Ada yang membela pengemudinya, ada juga yang tambah menghujat pengemudi ojolnya. 

Well, aku tahu banget kalo penduduk Jakarta itu berasal dari berbagai daerah. Fakta umum ini harusnya di pahami warganya dong. Karena dengan keberagaman itu, pastinya akan terjadi perbedaan dalam berbagai budaya salah satunya nama panggilan ini.

Perlu diketahui bahwa istilah "mbak" dan "mas" ini digunakan untuk menghormati lawan bicaranya. Aku baru tahu kalau bagi beberapa orang panggilan ini termasuk panggilan yang 'menghina' martabat seseorang. Panggilan "mbak" atau "mas" di Jakarta ini bagi beberapa orang merujuk pada orang orang yang mempunyai pekerjaan kasar semacam asisten rumah tangga, sopir, atau kuli bangunan. Karena rata-rata profesi profesi itu di miliki oleh orang  yang bersuku Jawa. 

Menurutku, stereotip ini didukung juga dengan tayangan televisi apalagi sinetron zaman dulu yang menciptakan karakter-karakter dengan pekerjaan tersebut adalah orang bersuku Jawa.  Maka dari itu, stereotip semacam itu terekam dalam masyarakat luas termasuk Jakarta yang merasa dirinya adalah kaum borju.

Pembentukan stereotip ini ternyata masih bertahan di era sekarang. Sewaktu saya awal-awal merantau di kota ini, panggilan "mas" dan "mbak" masih kental di lidah saya. Saya akan memanggil "mbak" dan "mas" jika memang usia mereka masih pantas di juluki dengan panggilan itu. Di lingkungan kerja, saya masih glorifikasi panggilan "bapak" atau "ibu" untuk mereka yang memang belum terlalu dekat atau mereka adalah atasan saya.

Menurut sejarah, dilansir dari Historia.id, panggilan "mbak" ini awalnya digunakan oleh para murid di Sekolah Taman Siswa pada zaman dulu. Penyebutan mbak digunakan oleh siswa laki-laki untuk menyebut teman perempuannya. Kata panggilan ini sangat populer hingga digunakan sampai hari ini. 

Kata "mas" diambil dari kata panggilan "kangmas". Kata panggilan ini juga masih populer digunakan di berbagai wilayah Jawa. Hanya saja di zaman sekarang sudah jarang ditemui kecuali memang daerah yang kental dengan budaya Jawanya. Biasanya "kangmas" ini digunakan sebagai panggilan sayang seorang istri kepada suami tapi seiring berjalanya waktu,  panggilan ini sudah umum digunakan oleh masyarakat luas. 

Nah setelah mengetahui asal usul panggilan ini, aku harap kamu jadi lebih paham kalo nama panggilan ini tidak ada unsur menghina atau merendahkan, justru malah menghormati. Menurutku pribadi aku gak masalah kok di panggil "abang", "akang", atau "pak" selama orang tersebut masih aware kalo panggilan itu ditujukan untuk seorang laki-laki ganteng semacam aku ini.


Comments

Popular posts from this blog

MERDEKA ATAS DIRI SENDIRI

bagaimana rasanya ditaksir oleh seseorang?