gen z dan depresi
Salah satu judul berita di Koran Kompas pagi ini membahas tentang 61 persen anak muda Indonesia yang ingin mengakhiri hidupnya karena depresi. Wah, sedikit terkejut ketika melihat judul beritanya. Di tengah kesadaran tentang kesehatan mental yang mulai populer di kalangan anak muda sekarang ternyata masih ditemukan angka yang fantastis tersebut.Lebih terkejut lagi ketika tahu bahwa rentang usia yang mengalami depresi adalah para Gen Z antara umur 15-24 tahun dengan persentase sekitar 2 persen. Persentase yang sangat fantastis jika dibandingkan dengan persentase rentang usia produktif diatasnya yang 'hanya' di kisaran 1 hingga 1,3 persen. Kecenderungan seperti ini dikhawatirkan dapat menurunkan kesehatan mental yang bisa berujung penurunan kesehatan dan masalah mental yang lebih parah lagi.
Adapun data ini diambil dari Survey Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 yang juga melaporkan bahwa depresi ini diidap oleh orang yang berpendidikan menengah ke bawah dengan persentase 1,5 persen diikuti dengan angka 1,3 persen untuk orang yang tamat SMA sejenjang. Di urutan terakhir, di duduki oleh orang yang memiliki pendidikan di tingkat lanjut yaitu 0,7 persen.
Selain itu, data tersebut menunjukkan bahwa persentase yang mengalami depresi berstatus masih di bangku sekolah yaitu di angka 2 persen. Angka ini juga berlaku untuk orang depresi yang tidak memiliki pekerjaan. Urutan selanjutnya diisi oleh orang yang memiliki pekerjaan buruh, supir, dan pembantu rumah tangga di persentase 1.6 persen.
Dalam laporan ini juga menunjukkan bahwa anak muda yang mengalami depresi memiliki keinginan untuk bunuh diri dalam satu bulan terakhir. Sebesar 61 persen anak muda depresi memiliki pemikiran itu. Perlu tindakan yang serius untuk mencegah hal ini terus berkecamuk dalam pikiran anak muda penerus bangsa ini.
Ditambah lagi hanya 10,4 persen dari total anak muda depresi yang mencari pengobatan. Padahal persentase yang mereka memiliki adalah yang tertinggi dari rentang usia anak muda lainnya. Pendampingan yang secara internal harusnya mampu untuk menekan angka ini. Seperti dengan cara memberi bimbingan konseling rutin jika memang masih di lingkungan sekolah.
Laporan juga menunjukkan bahwa berdasarkan jenis kelamin, perempuan yang mengalami depresi memiliki persentase yang lebih besar yaitu di angka 1,8 persen diikuti laki-laki yang yang hanya 1 persen. Data tersebut juga melaporkan bahwa sebesar 0.9 persen orang depresi hidup di desa. Angka ini lebih rendah dari pada orang depresi hidup di kota yang menunjukkan angka 1,7 persen.
Comments
Post a Comment