the fake laugh: what's behind it?

<a href="https://www.freepik.com/free-vector/group-people-watching-funny-video-laughing-cartoon_7499456.htm#query=laugh&position=1&from_view=search&track=sph&uuid=c293e0eb-73ae-4e42-96ac-e019844b7eb4">Image by macrovector</a> on Freepik

Tertawa pada dasarnya adalah salah satu respon alami otak ketika kita menemukan hal yang membuat kita terhibur atau excited. Tertawa merupakan respon alam bawah sadar ya gaes yaa, jadi yaa konsepnya otomatis. Kalau kamu melihat ada hal yang menurutmu lucu, otak bakal nyuruh kamu tertawa. But anyways, Cambridge dan Oxford dalam kamus mereka menambahkan kalo ketawa ini juga dikaitkan dengan reaksi ejekan dan cemoohan lho. Pun Merriam Webster juga mengamini hal itu.

Menurut beberapa artikel yang aku baca, tertawa ini memiliki satu fungsi yang akan membuat otak kita mengeluarkan sebuah zat yang bernama endorfin. Dimana zat tersebut bermanfaat untuk mengurangi rasa cemas dan khawatir. Maka dari itu, ada yang namanya terapi tertawa. Harapannya sih yaa  triggering action untuk menghasilkan endorfin itu. Ada yang pernah coba?

Selain manfaat di atas, tertawa ini juga memiliki efek yang membuat kita lebih santai dalam berkomunikasi lho. Hal ini disebabkan karena tertawa, somehow, triggering a small muscle called cataplex in brain. Selain itu, tertawa ini juga dapat menular karena tawa mempunyai sifat bounding. Cara kerjanya mirip ketika kamu menguap dan orang yang melihatmu menguap akan ikut menguap. Well, menurutku dipengaruhi sama empati juga sih.

Well then, mukadimah diatas membahas manfaat dari genuine laugh atau tertawa asli yaa. Nah, topik pembahasan kita kali ini adalah fake laugh atau tertawa palsu. Kebetulan, topik ini muncul ketika aku secara ga sadar ngeluarin fake laugh pas ngedengerin lawakan garing dari atasanku pas briefing. I kind of forget what was that about but I bet that was my genuinely fake laugh… And to make it more embarrassing, my fake laugh was the loudest among the group. What a shame!

Please, jujur. Pernah ga kalian ngelakuin fake laugh di lingkungan sosial kalian? Entah itu di tempat kerja atau sama temen-temenmu yang lawakannya garing kaya kerupuk? pernah pastilah yaa. Does it feel good? It's uncomfortable, isn't it?

Lets take an example of the fake laugh around a work place. Well, aku baru nemu istilah yang menggambarkan fake laugh di tempat kerja ini yaitu ketawa karir. Yaa ga asing kan di telinga kalian. Sebenernya, aku masih belum tahu siapa pencetus istilah itu tapi ya istilah ini menurutku bener bener menggambarkan kegiatan dan situasi ketika kita melakukannya, right?

Dan, somehow, aku juga gatau siapa pencetus "ketrampilan" ini. Hypotethically, bisa jadi karena ini adalah bagian dari evolusi emosi manusia karena tekanan situasi lingkungannya. Yahh, who knows? I was just guessing.

Anyways, fake laugh ini menurutku juga natural act kita untuk bertahan dalam sebuah komunikasi sih. Pada dasarnya, fake laugh ini harmless atau tidak menyakiti lawan bicara kita. Dengan catatan, di kondisi dan situasi tertentu yaa. Coba bayangin deh, semisal kita berada di lingkungan kantor dan atasan kalian ngeluarin jokes yang menurutmu ga lucu. Then you only have two choices, fake it or nag it? Kamu ga bakal mungkin bilang "Jokesnya ga lucu, Pak." 

Well if that happened, your boss would instantly kill you. Kamu bakal bereaksi gitu mungkin kalo kamu punya keberanian atau kamu deket sama atasanmu but the safest reaction for me is to fake it. I know it seems so hypocrite tapi daripada dapet sepatu melayang kan mending ketawa palsu aja. Jadi yaa menurutku ga ada salahnya kamu menguasai keahlian ini.

Another shocking fact dari fake laugh ini, ada sebuah penelitian yang menyimpulkan bahwa pria memiliki keahlian yang payah dalam memalsukan tawanya daripada wanita. Lebih payah lagi, jika pria tersebut memiliki power di suatu tempat. Well, girlssss what's the secret? You girls are always full of surprises. But not at making jokes.

Ngomong-ngomong soal jokes nih, tertawa palsu ini juga bisa muncul karena ketidakberdayaan otak dalam memahami jokes lawan bicaranya. Entah itu karena perbedaan bahasa, tingkat kecerdaasan, atau selera humor. Jadi no wonder yaa atasan-atasan kita ni ketika bikin jokes Cuma mereka yang bisa ketawa.

Lebih dalam lagi, fake laugh ini juga ternyata memiliki pola tawa yang khas. Sebuah studi penelitian fake laugh dilakuin oleh salah satu professor dari UCLA bernama Greg Bryant. Menurutnya semakin cepat tawa yang dilakukan seseorang, semakin meyakinkan bahwa itu adalah tawa asli. Jadi percepatan tawa dan pengambilan nafas berperan penting dalam pembentukan fake laugh ini. Wow, sedikit rumit ternyata yaa.

Lebih rumit lagi, ternyata Pak Bryant ini juga kepo tentang fake laugh di dunia binatang. Makanya kali ini dia berkolaborasi dengan Ibu Athena Aktipis yang sekarang jadi professor di ASU. Hasilnya menyimpulkan bahwa memang hanya manusia yang dapat memalsukan tawa. Menurut Pak Bryant, jika tawa yang dihasilkan dalam dunia hewan artinya mereka sedang dalam situasi bermain. Dia juga menambahkan bahwa tawa asli kita adalah bagian dari animal nature kita. Wah, pantes aja kucingku semakin menjadi-jadi kalo pas nyakar kakiku dan aku ketawa. Emang gemes sih tapi kan sakit juga, cing.

Kalo dinilai dari nilai sosialnya nih. Menurutmu bener apa salah fake laugh itu dilakukan?

Well menurutku, terlepas dari salah apa bener nya tindakan seseorang melakukan tawa palsu, sebenernya hal itu adalah lumrah dan harmless. Hanya saja perlu digarisbawahi bahwa bepura-pura itu consumes so much energy karena kita kan pura-pura exited padahal aslinya mah biasa aja.

Dan menurutuku juga, kita juga ga boleh lho membiasakan fake laugh untuk candaan yang menyinggung seseorang. Misalnya jokes yang memicu ke sexual harassment. Takutnya nih, ada orang yang nyeletuk ke arah situ dan orang orang disekitarnya ketawa. Well, he definitely think that he is the funniest guy dan malah keterusan nyeletuk hal-hal yang menyinggung ke arah situ. So, be wise…



References:


Cambridge Dictionary "Laugh"

Oxford Learners Dictionaries "Laugh" 

Merriam Webster "Laugh"

Comments

Popular posts from this blog

Opinion Sharing: "Jangan Panggil Mbak!"

MERDEKA ATAS DIRI SENDIRI

bagaimana rasanya ditaksir oleh seseorang?