the monologue: quarter life crisis

Pagi itu, seorang pemuda berkulit gelap sedang bersiap untuk melanjutkan babak baru dalam kehidupannya. Setelah drama masa putih abu abunya sudah rampung, pemuda itu memutuskan untuk melanjutkan jenjangnya. Meskipun kebanyakan dari teman sekelasnya lebih memilih untuk lanjut bekerja, tetapi pemuda tersebut memiliki tekad yang kuat untuk berkuliah. Berkutat kembali dengan tulisan dan tugas yang tak henti justru membuatnya semangat dalam meraih mimpinya. Mimpi dalam wujud cita-cita yang akan menjadi bakal keberhasilannya di masa depan.

Sering terlintas dipikirannya kala itu, ketika mulai merasa kurang motivasi, dia akan melakukan hal kurang penting dengan membandingkan pencapaianya dengan milik orang lain. Tentu hal itu sebenarnya kurang baik untuk dilakukan, tapi tetap saja godaan itu pasti selalu ada. Sayangnya, Semangat dalam hati itu tak pernah redup dalam sanubari pemuda itu. Walaupun sekencang apapun angin godaan menerpa dirinya, ia tetap tangguh dan berdiri tegak untuk mencapai tujuannya. Salut sekali dengan pendiriannya waktu itu. 

Waktu berlalu, empat tahun dia habiskan untuk mendapatkan gelar di belakang namanya. Memang itu hanya dua buah huruf sederhana yang mungkin hanya menggenapkan jumlah huruf namanya menjadi empat belas, tetapi maknanya bagi dia tak sesederhana itu. Tawa, tangis, rindu, dan peluh yang menemaninya setiap waktu memiliki kenangan sendiri-sendiri dalam memorinya. Satu hal yang perlu diingat, bahwa pemuda itu sangat menyukai apa yang dia kerjakan saat itu. Sehingga setiap milidetik yang dia habiskan untuk melakukan aktivitas kampus terasa menyenangkan sekali. Berbanding terbalik  dengan apa yang telah dialaminya sewaktu SMK yang hampir setiap harinya dipenuhi dengan tangis dan ketidakberdayaan. 

Tak berselang lama, mulailah pemuda itu merasakan fase untuk mencari penyambung hidup. Ia bingung akan apa yang harus dia lakukan selanjutnya. Entah mengapa, semua kehidupan indah yang telah dia bayangkan sewaktu kuliah dulu tiba-tiba hanya menjadi mimpi semalam. Ekspektasi yang akhirnya membuat dirinya kecewa karena realita menamparnya tanpa ampun. Perlahan-lahan pemuda itu mulai limbung dan semangat dalam dirinya mulai meredup. Gebrakan dan semangat dari teman serta keluarganya pun hanya dia anggap angin lalu. 

Kalian tidak tahu apa yang aku rasakan.

Kalimat itu hanya mampu dia pendam dalam dirinya tentu saja. Dia terlalu penakut untuk mengeluarkannya. Memilih diam demi kebaikan bersama, katanya. 

Hari-hari menjadi kelabu baginya. Gundah dan bimbang menemaninya setiap hari. Kecemasan dan ke tidak percaya dirian menjadi temannya kala sebelum tidur. Menangis mungkin bisa menjadi solusi untuk meredam emosi sesaatnya. Berharap tetesan-tetesan air mata itu dapat menghilangkan masalah yang dihadapinya. Tapi sekeras apapun dia mencoba untuk menangis, netra hitamnya menolak untuk mengeluarkan air mata sekadar satu tetes atau dua tetes.

Setiap hari dia mencoba melangkah, tetapi tetap saja dia selalu merasa tidak yakin dengan langkah yang akan diambilnya itu. Pikirannya hanya tertuju pada benar atau salah saja sehingga hanya buang-buang waktu tanpa ada progress sama sekali. 

Beragam pertanyaan dia lontarkan untuk dirinya sendiri. Malang sekali, jawaban dari pertanyan-pertanyaan itu hanya meninggalkan penyesalan karena mereka malah tambah membebani pikirannya yang memang sudah penuh. 

Belakangan ini, pikiran sebelum tidur bagaikan momok yang menakutkan untuk ditemui. Banyak hal yang tiba-tiba muncul di pikirannya dan menambah ketidak berdayaannya. Pillow-talk dengan diri nya sendiri adalah hal yang sebisa mungkin harus dia hindari demi tidur nyenyak dan ketenangan jiwa. Karena ia pun tahu, bahwa hasil akhir dari sesi tersebut hanya berisi penyesalan belaka. 

Penyesalan adalah topik yang paling sering muncul dalam sesi ini. Di benaknya selalu muncul pertanyaan:

Sudah sampai sejauh mana perkembangan mu hari ini?

Terlalu takut untuk menjawab dan terlalu malu untuk mengakui bahwa hari ini tidak ada perkembangan sama sekali. Rasa mual yang tidak bisa dijelaskan akan muncul secara tiba-tiba ketika dia menyadari jawaban dari pertanyaan itu. Pikiran pemuda itu akan bergerak liar dan menampilkan gambaran hal-hal tidak berguna apa saja yang telah dia lakukan hari ini. Dia sadar akan hal itu setiap malam tetapi hari selanjutnya akan dia ulangi lagi dengan tetap melakukan hal yang sama. 

Sampai kapan kamu akan begini?

Entah. Ketidakpastian jawabannya sama dengan ketidakpastian kamu akan bangun di pagi hari, pikir pemuda itu. Di titik itupun dia merasa jengah dengan rasa yang sangat mengganggu di dalam dirinya. Rasa mengganjal di perutnya bagaikan sembelit yang tak pernah usai. Pertanyaan demi pertanyaan itu menyulitkannya untuk berpikir jernih. Tertutup banyak tanda tanya sehingga solusi pun tak terlihat dan memilih bersembunyi karena ketakutan.

Tak pernah terbayang di benak pemuda itu sebelumnya, betapa naifnya ia ketika menginjak umur sepuluh tahun dan mengatakan bahwa menjadi dewasa itu asyik. Teringat hal itu, ingin rasanya pemuda itu menampar mulut bocah yang mengatakan hal tersebut. Kehidupan dewasa sekarang ini menurutnya hanya dipenuhi dengan kekhawatiran dan keraguan yang tidak jelas. Memikirkan masa depan yang belum tentu akan terjadi. Bergulat dengan pikiran sendiri dan juga harus menghadapi kenyataan yang  kadang terasa memberatkan.

Dia merasa membenci dirinya saat itu. Benci karena dia merasa tidak sanggup. Benci karena dia merasa berbeda dengan yang lain. Benci karena takdir seolah tidak berpihak padanya. Kata menyerah sudah membayanginya saat itu. Menyerah pada takdir yang dengan teganya menginjak-injak dirinya yang tak berdaya itu. Dia bingung bukan kepalang. 

Berubah atau hanya berpasrah pada takdir tanpa berjuang?

Terlalu banyak yang dipikirkan hingga lupa bahwa jawabannya adalah dirimu sendiri. Berubah. Mulailah melangkah! Meskipun langkah kecil, tetapi langkah kecilmu itu akan membawamu lebih dekat dengan tujuan akhirmu. 

Pemuda itu terkesiap takjub ketika suara kecil itu menyapanya secara tiba-tiba. Rasa hangat yang sangat familiar dia rasakan. Degup jantungnya terasa lebih hidup dan dia merasa nafasnya menjadi lebih teratur. Rasa yang mengganjal di perutnya berangsur-angsur sedikit teratasi. Entah darimana datangnya suara itu, dia tidak peduli. Rasa hangatnya bagaikan setitik api kecil di tempat yang dingin. Memang kecil, tetapi kehadirannya dapat menciptakan suasana baru. Mengingatkan pemuda itu bahwa masih ada harapan yang tersisa. 

Dia mulai merasakan titik terang atas masalah yang dihadapinya sekarang ini. Melangkah adalah satu-satunya jalan yang harus dia lakukan. Dia terlalu egois jika berhenti disini. Dia bahkan bisa mengacaukan segalanya yang telah dia perjuangkan jika dia memutuskan untuk berpasrah pada keadaan. Melangkah memang berat, tapi bukan berarti diam adalah hal yang baik. 

Mulailah pemuda itu bangun dan bersiap untuk memulai hari yang lebih baik daripada sebelumnya. Pikirannya memang belum sembuh total dari siksaan buah pikirannya sendiri tapi dia merasa lebih kuat sekarang. Menghiraukan egonya sendiri yang melolong minta tolong tapi di sisi lain juga menyemangatinya dengan penuh haru. Dia menjadikan luka -luka itu sebagai pacuannya untuk terus bergerak dan mengingatkan pada diri sendiri bahwa luka-luka itu disebabkan olehnya.

Sudah saatnya dan sudah tidak ada waktu lagi untuk diam. Terlalu lama mengamati keadaan hingga lupa bahwa dirinya hampir diserang bahaya. Bahaya yang hampir setiap saat mengincarnya tanpa melihat situasi. Memang tak bisa lari dari bahaya itu tapi setidaknya bisa mengulur waktu lebih lama lagi. Mengulur waktu untuk bisa merasakan hidup dengan lebih bermakna. 

Apa makna dari kehidupanmu sendiri?

Pemuda itu berpikir keras ketika diberi pertanyaan ini. Mencari makna dari kehidupannya adalah hal yang sedikit sulit ia lakukan. Semboyan "hidup cuma sekali" masih dia maknai dengan kacamata yang sempit. Dia pun masih percaya bahwa campur tangan Tuhan masih bisa dia rasakan di setiap tarikan nafasnya. Hal kecil yang mungkin dia lupa untuk disyukuri adalah ketika ia bangun di pagi hari dan masih diberi kesempatan untuk hidup. Menjalani kehidupan layaknya makhluk hidup yang lain. Mungkin dia masih perlu waktu lagi untuk bisa menemukan jawabanya. Berharap di perjalannya nanti dia bisa lebih memahami kehidupannya sendiri. Sekarang yang paling utama adalah mengarahkan fokus hidup dan mulai menjalaninya.

Mengarahkan pandangan ke depan dan mulai berproses. 

Seseorang pernah berkata pada dirinya bahwa hal yang paling sulit dalam membangun sebuah proses adalah memulainya. Waktu itu dia tidak paham dengan maksud perkataan tersebut. Tetapi setelah dia mengalaminya sendiri, ia mulai paham bahwa hal sulit yang dimaksud adalah melawan diri sendiri. Mengingat hal itu, pemuda tersebut menyadari bahwa dia sangat lupa akan jati dirinya saat itu. Bahkan dia lupa kapan terakhir kali dia berkabar dengan dirinya sendiri. 

Mungkin dia akan dianggap gila jika dia mengatakan hal ini kepada orang lain tetapi di masa lalu, bermonolog dengan diri sendiri adalah hal yang menyenangkan. Dia tidak merasa kesepian walaupun tidak ada orang lain disekitarnya ketika ia melakukan sesi itu. Rasanya tidak beda jauh dengan reuni bersama kawan lama. Di setiap sesi itu dia selalu menemukan hal baru yang ia temui tentang dirinya. Dia seringnya terheran-heran dengan fakta-fakta itu. Bagaimana bisa dia tidak menyadarinya padahal semua fakta itu dia sendiri yang lakukan dan miliki. 

Awalnya, pemuda itu bingung dengan siapakah dia bermonolog sepanjang waktu itu. Dia sangat penasaran dengan wujud dan rupa orang itu. Selama ini dia hanya bisa mendengarkan suaranya melalui dalam dada dan tenggorokannya. Setidaknya hal itu lah yang bisa dia percayai bahwa sumbernya memang dari sana. Sesuatu itu tidak pernah mengenalkan dirinya secara langsung sejak awal tetapi pemuda itu selalu memercayai apapun yang dikatakannya. Mungkin sama halnya dengan yang dikatakan orang lain tentang suara hati. Tetapi sedikit kurang pas jika dia melabeli sesuatu itu dengan suara hati. Entahlah.

Memaklumi keadaan dan mulai mencintai diri sendiri.

Hal tersebut memang sedikit menyentil pikirannya sejak kala itu. Ketika istilah self love digaungkan sana-sini, pemuda itu merasa dia sudah mencintai dirinya sendiri. Padahal, dia kadang merutuki kebodohannya sendiri ketika salah mengambil langkah. Layaknya mencintai orang lain, mencintai diri sendiri pun sama beratnya. Ketika tidak bisa menyalahkan keadaan, kemungkinan besar akan menyalahkan diri sendiri. Dia tidak sadar bahwa hal itu dapat menyebabkan dirinya sendiri goyah. Tidak cepat bertindak mencari solusi dan mengendalikan keadaan tetapi malah sibuk menyalahkan dirinya sendiri. 

Mencoba meresapi makna mencintai diri sendiri, pemuda itu mengingat-ingat hal apa saja yang membuatnya senang dan yang tidak dia sukai. Membentuknya menjadi senjata untuk memulai proses langkahnya. Dia selalu paham bahwa perdamaian akan menuntun ke kebahagiaan. Sama halnya dengan berdamai dengan sendiri yang akan menuntun jiwa seseorang menjadi lebih bahagia. 

Senyum tipis terpampang di wajah pemuda itu, menemukan fokus tujuannya untuk berubah bersama menjadi lebih baik demi meraih kebahagiaan. Memang tak mudah untuk mencapai keberhasilan. Diperlukan proses yang panjang dan perjuangan yang sengit untuk dapat berdiri di atas. Dia yakin bahwa masa-masa terpuruknya akan selalu membayanginya setiap saat. Tetapi dia dapat memahami bahwa hal itulah yang menyebabkan dia berkembang. Ini adalah sebuah fase. Fase dimana pencarian jati diri dan makna hidup menjadi hal yang krusial. Sebuah fase yang harus dia lewati untuk menjadi manusia yang lebih baik dan bermakna. Menjadi bagian dari proses hidup yang kemudian mati menyisakan kenangan.

To be continued... 

Comments

Popular posts from this blog

Opinion Sharing: "Jangan Panggil Mbak!"

MERDEKA ATAS DIRI SENDIRI

bagaimana rasanya ditaksir oleh seseorang?